28 Mei 2018

Mei 28, 2018

Info Post
Oleh: Bryan VM Sianipar


Misa Pada Hari Minggu Biasa


I. Ritus Pembuka

1. Perarakan Pastor/Imam
Perarakan dimulai dari depan gereja atau tergantung Paroki kalian masing-masing. pada umumnya, perarakan dimulai dari depan pintu gereja. urutan perarakan adalah misdinar, petugas liturgi (Lektor dan Pemazmur), Imam konselebran, dan diposisi paling belakang Imam selebran utama. semuanya lalu berarak menuju altar dengan tangan misdinar terkatup tetapi kedua ibu jari membentuk silangan lalu tangan ditempel di ulu hati. Ini dimaksudkan supaya seorang misdinar itu mengekang dirinya dalam Ekaristi dan melupakn segala permasalahan pribadinya dan fokus pada pelayanannya.

Setelah rombongan perarakan sampai didepan Altar, semuanya lalu mengambil posisi melebar dan menyiapkan ruang di tengah untuk Imam. Lalu Imam akan mengajak untuk menghormati altar dan Tabernakel, cara menghormatnya bisa dengan membungkuk 45° atau berlutut dengan kaki kanan saja. Setelah menghormat, Imam akan berjalan menuju kebelakang Altar, lalu mencium altar. Rombongan misdinar tadi masih diposisi awal, dan tidak menghormat lagi ketika Imam mencium Altar. Setelah itu, misdinar menuju tempat duduknya, tapi masih dalam keadaan berdiri.

2. Tanda salib
Selebran membuka perayaan Ekaristi dengan memimpin Tanda Salib, sementara umat dan misdinar masih berdiri.

3. Salam pembukaan dan Pengantar hingga ke Doa Pembukaan
Misdinar tetap berdiri dan keadaan tangan masih terkatup. Sampai ke Doa Pembukaan.

II. Liturgi Sabda

1. Bacaan Pertama hingga Bacaan Kedua

Ketika Imam selesai berdoa pembukaan, seluruh umat akan duduk, tetapi, misdinar belum. Jika tempat duduk Imam berdekatan dengan tempat duduk Misdinar, maka, misdinar bertugas untuk mengangkat kasula Imam ketika Imam akan duduk, sehingga Kasula tidak diduduki oleh Imam. Setelah itu, misdinar lalu duduk. Tetapi jika tidak berdekatan, misdinar boleh duduk ketika Imam sudah duduk. sikap tubuh ini berlanjut terus hingga selesai Bacaan Kedua.

2. Bait pengantar Injil/Alleluya
Ketika akan dimulai Bait Pengantar Injil, misdinar lalu berdiri, dan mengambil lilin bernyala lalu mendampingi Imam ketika Injil dibacakan.

3. Bacaan Injil
Misdinar mendampingi Imam disebelah kiri dan kanan Ambo (mimbar Bacaan) sambil memegang lilin bernyala. Jangan sampai lilin tersebut menjadi penghambat ruang gerak Imam.

4. Homili hingga Doa Umat
Pada homili, misdinar duduk dengan posisi yang anggun dan pada saat Syahadat dan Doa Umat misdinar berdiri. Pada bagian Syahadat, ketika bagian “yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”, misdinar membungkuk seperti yang tadi. Ini lebih ke penghayatan dan penghormatan akan Bunda Maria.

III. Liturgi Ekaristi

1. Persiapan Persembahan

Ketika “Amin” dalam Doa Umat selesai diucapkan, dua orang misdinar lalu menuju Meja Kredens. Tapi sebelumnya, harus menghormat Altar dan Tabernakel. Cara menghormatnya bisa dua cara tadi, membungkuk ataupun berlutut dengan menekuk kaki kanan dan lutut tepat dilantai. Lalu misidinar menuju Kredens. 

a)    Awalnya misdinar mengantar sibori berisi hosti dan piala (disini piala sudah disusun sedemikian rupa dengan urutan dari bawah keatas, piala- kain purifikatorium- patena- hosti besar- sendok kecil(bila ada)- palla- kain corporal). Ketika sudah maju kesamping Altar, misdinar menghormat membungkuk, lalu memberikannya kepada Imam. Lalu kembali ke Kredens dengan meghormat membungkuk terlebih dahulu.

b)    Selanjutnya, misdinar meghantar ampul berisi air dan anggur. Apabila ampulnya memiliki tangkai telinga seperti cangkir, tangkainya dibuat kearah Imam untuk memudahkan Imam mengambilnya. Seperti biasa, sebelum dan sesudah menghantar barang persembahan air anggur, misdinar harus membungkuk menghormat. Setelah itu, misdinar kembali ke Kredens.

c)    Misdinar selanjutnya mempersiapkan Lavabo dan kain lap. Lalu, kedua misdinar tersebut maju ke samping Altar atau mendekati Imam dan menghormat seperti biasa. Lalu misdinar pemegang lavabo menuangkan air ke tangan Imam dan mencuci tangannya. Setelah mencuci, misdinar yang memegang kain lap, memberikan lap itu kepada Imam dalam keadaan terbentang. Setelah itu, misidnar kembali ke Kredens untuk meletakkannya ketempat semula. Ingat, sebelum kembali ke Kredens, misdinar menghormat lagi seperti tadi.

d)    Setelah mengembalikan Lavabo dan lap tangannya ke Kredens, misdinar kembali ketempat duduknya dan menghormat lagi seperti tadi mau menuju Kredens.

2. Penghunjukan Persembahan
Apabila Imam mengucapkan doa dengan lantang “Terpujilah Allah…..” misdinar bisa saja duduk. Tetapi bila langsung dilanjut ke doa persembahan dengan ajakan "Berdoalah, saudara-saudari……" dan umat menjawab dengan "Semoga persembahan ini….." misdinar langsung berdiri.

3. Prefasi
Prefasi diawali dengan dialog pembuka, Imam berkata, “Tuhan sertamu” lalu umat menjawab “Dan sertamu juga”. Ketika umat menjawab dan sertamu juga, lonceng dibunyikan. Lalu Imam melanjut dialog sampai ke bagian prefasi terakhir sambil mengajak umat menyanyikan/mengucapkan Kudus.

4. Kudus
Ketika Kudus dinyanyikan/diserukan, misdinar bisa langsung mengambil tempat berlutut ketika Doa Syukur Agung nanti.

5. Doa Syukur Agung
Ketika Kudus selesai dinyanyikan ataupun diserukan, misdinar berlutut ditempat yang sesuai. Lalu DSA dimulai. Pada bagian epiklesis selesai, bagian ketika Imam mengubah roti dan anggur mrnjadi Tubuh dan Darah Kristus, misdinar membunyikan lonceng, tapi tidak terlalu lama. DSA berlanjut ke bagian Konsekrasi, setelah selesai mengatakan “Terimalah dan makanlah. Inilah Tubuhku yang diserahkan bagimu”, Imam lalu mengangkat Tubuh Kristus, lalu misdinar membunyikan gong ataupun lonceng tiga kali dengan jeda yang tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat pula. Setelah itu, Imam akan menurunkan Tubuh Kristus, lalu menghormat. Ketika Imam menghormat, misdinar lalu membunyikan lonceng panjang sampai Imam selesai menghormat.

Selanjutnya ketika Imam selesai mengatakan “Terimalah dan minumlah. Inilah Darahku, Darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkanbagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”, misdinar lalu membunyikan lonceng ataupun gong tiga kali seperti yang tadi. Setelah selesai, Imam akan menurunkan piala lalu menghormat dan misdinar membunyikan lonceng hingga Imam selesai menghormat.

DSA dilanjutkan hingga selesai dengan misdinar tetap pada posisi berlututnya tadi.Saat selesai, DSA akan ditutup dengan Doksologi dan umat menjawab dengan “Amin” tiga kali, lalu misdinar membunyikan lonceng panjang hingga selesai “Amin” dinyanyikan. Apabila tidak dinyanyikan, lonceng tidak dibunyikan.

Setelah itu, misdinar bangkit dan kembali ketempat duduknya tapi masih dalam keadaan berdiri karena Doa Bapa Kami akan dimulai.

Komuni

1.  Doa Bapa Kami- Komuni
Misdinar tetap berdiri. Lalu saat menerima Komuni, misdinar menerima seperti umumnya dan berdoa. Setela itu, misdinar langsung mengambil lilin atau lentera, lalu menemani para Prodiakon membagikan Tubuh dan/atau Darah Kristus. Setelah selesai menemani Prodiakon, misdinar lalu kembali bersama Prodiakon dan mengembalikan lilin atau lentera, lalu duduk di tempat duduknya. Setelah Komuni selesai, dua orang misdinar kembali menuju Kredens. Misdinar lalu membawa air sisa di ampul tadi lalu mendekati Imam yang memegang piala lalu menuangkannya. Eitsss, sebelum dan sesudah menuangkannya misdinar menghormat lagi ya. Lalu menuju Kredens lagi untuk meletakkan ampulnya. Lalu, misdinar berjaga apabila Imam mulai meletakkan piala dan susunannya dan sibori yang digunakan tadi. Apabila Imam mulai meletakkannya, misdinar lalu mengambilnya dan mengembalikkannya ke Kredens dengan keadaan rapi.

2. Doa Sesudah Komuni
Misdinar berdiri.

IV. Ritus Penutup

1.  Pengumuman.
Misdinar duduk, tapi setelah Imam duduk. Ketika Imam akan duduk misdinar mengangkat Kasula Imam sehingga Imam tidak mendudukinya.

2. Berkat dan Pengutusan
Misidinar berdiri untuk menerima berkat.

3. Perarakan keluar
Setelah pengutusan, Imam akan mencium Altar kembali. Setelah itu, misdinar langsung mengambil posisi didepan Altar seperti perarakan masuk tadi dengan memberikan ruang ditengah untuk Imam. Imam lalu memimpin penghormatan, bisa saja membungkuk ataupun berlutut. Setela menghormat, misdinar kembali ke Sakristi dan berdoa. Tapi, ketika perarakan keluar susunan barisan seperti pada saat masuk tadi. Usahakan berjalan keluar dengan anggun ya. 

Misa Pada Hari Raya secara Umum


Pada Hari Raya, tidak jauh berbeda dengan Ekaristi Masa Biasa. Berikut perbedaannya.

1.    Saat perarakan masuk, urutan perarakan misdinar. Misdinar pembawa wiruk dan kemenyan paling depan. Misdinar pembawa salib dibelakangnya diapit misdinar dua orang pembawa lilin bernyala, dibelakangya misdinar yang lainnya.

2.    Saat sebelum mulai perarakan misdinar pemegang dupa mendatangi Imam untuk menaburkan biji kemenyan (ratus) ke Wiruk yang sudah ada arangnya. Lalu Imam memberkatinya.

3.    Saat rombongan perarakan sampai didepan Altar dan setelah Imam selesai mencium Altar, Kkedua misdinar pemegang dupa tadi mendekati Imam. Lalu misdinar membuka wiruk, dan Imam menaburkan biji dupa kedalamnya. Lalu misdinar memberikan wiruk kepada Imam dan mulai mendupai Altar. Misdinar tidak perlu ikut mendampingi Imam. Setelah selesai Imam mendupai Altar, Imam akan memberikan wiruk kepada misdinar tadi. Lalu misdinar menghormat ke Imam dan mendupai Imam 2x3 (crek-crek, crek-crek, crek-crek). Setelah itu menghormat kembali lalu meninggalkan Panti Imam dan meletakkan Wiruk ditempatnya lalu kembali ketempat duduk dengan menghormat terlebih dahulu

4.    Ketika Bait Pengantar Injil selesai, misdinar pemegang wiruk dan kemenyan mengambil wiruk dan kemenyan mereka. Lalu ikut dengan misdinar pembawa lilin mendampingi Imam dalam membacakan Injil. Misdinar pendupa dibelakang mam. Setelah Imam selesai dialog “ Tuhan Sertamu,….dst” Imam akan menghadap ke para misdinar untuk menaburkan kemenyan itu ke wiruk lagi lalu Imam mendupai Evangeliarium. Setelah itu, Imam memberikannya kepada misdinar. Setelah Injil selesai, misdinar kembali ketempat duduk setelah mengemblikan barang yang mereka pegang tadi.

5.    Ketika persiapan persembahan setelah misdinar selesai menghantarkan air dan anggur, lalu misdinar pemegang wiruk dan kemenyan langsung datang mendekati Imam. Lalu Imam akan datang dan mulai menaburkan kemenyan kedalam wiruk lalu mendupai persembahan dan Altar seperti keadaan yang tadi ketika perarakan masuk. Setelah mendupa Altar dan persembahan, Imam lalu didupai oleh misdinar seperti yang tadi dengan aturan 2x3. Lalu misdinar yang ada di Kredens tadi melanjutkan dengan mencuci tangan dengan lavabo seperti Misa masa biasa.

6.    Setelah mendupai Imam, misdinar lalu mendupai umat ditempat yang serasi. Aturan pendupaannya 1x3 (crek (jeda),crek (jeda),crek(jeda)). Langkahnya, menghormat umat-meminta umat berdiri dengan kode tangan- mendupa- meminta duduk dengan kode tangan- menghormat- kembali ketempat penyimpanan wiruk. Yang menaburkan biji kemenyan disini adalah misdinar pemegang kemenyan.

7.    Tugas pendupa selanjutnya ada pada saat DSA. Ketika Kudus dinyanyikan, misdinar semua mengambil tempat berlutut yang serasi seperti misa Masa Biasa tapi dengan posisi ditengah pemegang wiruk dan kemenyan. Saat Konsekrasi, ketika Tubuh dan Darah Kristus diangkat Imam, misdinar mendupai dengan aturan 3x3. Langkahnya, crek-crek-crek (sambil bunyi gong sekali), crek-crek-crek (sambil bunyi gong sekali), crek-crek-crek (sambil bunyi gong sekali). Lalu setelah Imam menurunkan Tubuh dan Darah Kristus, lonceng dibunyikan ketika Imam menghormat seperti misa masa biasa. Yang menaburkan biji kemenyan disini adalah misdinar pemegang kemenyan.

8.    Tugas misdinar pendupa untuk mendupa selesai. Ekaristi lalu berjalan seperti misa Masa Biasa. Misdinar pendupa bisa ikut ambil bagian memegang lilin atau lentera menemani Prodiakon membagi Komuni.

Catatan:
1.    Sebelum Ekaristi  dimulai, misdinar, Imam dan rombongan petugas liturgy berdoa dan bersiap-siap di Sakristi. Kondisi di Sakristi haruslah hening dan tidak ribut.
2.    Misdinar, setiap kali masuk dan keluar Panti Imam harus didahului menghormat karena ada Tubuh Kristus di Tabernakel.
3.    Usahakan tata gerak misdinar dilakukan seanggun mungkin, sehingga tidak malah merusak keadaan dan suasana Misa.
4.    Tata gerak misdinar bisa saja berbeda di tiap gereja atau paroki. Bisa dikarenakan tata ruang gereja yang berbeda, budaya setempat, dan berbagai alasan lainnya.

Semangat untuk para pelayan Tuhan!!!! Layani Tuhan dengan hati tulus dan indah.
Saya menerima kritik dan saran yang membangun. Terimakasih.

Sumber : http://bryanvmsianipar.blogspot.com/2015/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html


Share:
Posting Lebih Baru
Previous
Ini adalah postingan paling awal.

0 comments:

Posting Komentar